Budidaya Ikan Jelawat

Ikan jealawat biasanya lebih dikenal dengan sebutan ikan kelemak (Sumatera) atau ikan menjuhan (Kalimantan Tengah) termasuk dalam tipe ikan air tawar yang banyak ditemui di sungai dan daerah genangan air kawasan tengah hingga hilir, bahkan pada bagian muara sungai.

Habitat yang disenanginya adalah anak — anak sungai yang berlubuk dan berhutan pada bagian pinggirnya, terutama pohon — pohon yang buahnya dapat mereka makan bila jatuh ke air seperti tengkawang, biji karet atau bunga — bunga di permukaan air.

Langkah Budidaya Ikan Jelawat

 

Biasanya ikan jelawat berusaha untuk menuju ke hulu sungai pada setiap permulaan musim penghujan (Oktober -Februari) yaitu saat permukaan air mulai naik bermaksud untuk berpijah di muara — muara sungai, dan jika permukaan air mulai turun atau pada awal musim kemarau mereka akan berupaya kembali ke hilir.

Anak jelawat banyak dijumpai di daerah genangan dari daerah aliran sungai (DAS). Di saat air menyusut, anakan dari ikan jelawat secara bergerombol berusaha ke arah bagian hulu sungai.

Secara morfologi, ikan ini mempunyai bentuk badan agak bundar & memanjang, mencerminkan bahwa ikan ini tergolong perenang cepat. Di bagian kepala atas agak mendatar, mulut berukuran sedang, garis literal tidak terputus.

Pada bagian punggung berwarna perak kehijauan & bagian perut putih keperakan, pada sirip dada & perut terdapat warna merah gurat sisi melengkung agak ke bawah & berahir di bagian ekor bawah yang memiliki warna kemerah-merahan, memiliki 2 pasang sungut.

Pemeliharaan ikan jelawat biasanya mengandalkan hasil penangkapan dari perairan umum yang dikerjakan pada musim penghujan. Ikan ini berkembang biak di sungai pada permulaan musin hujan, dengan anak benih tersedia secara musiman.

Karena penangkapan benih hanya mengandalkan hasil penangkapan di perairan umum, maka pada biasanya kontinuitas eksistensi ikan jelawat ini terganggu. Melihat kondisi tersebut, maka perlu adanya upaya peternakan menggunakan metode yang mengandalkan penguasaan teknologi.

Peternakan ini pun menjadi peluang usaha dan nantinya akan memberikan keuntungan yang besar. Metode peternakan ikan jelawat ini dapat melakukannya melalui beberapa tahap, yaitu pematangan gonad, pemijahan, penetasan, pemeliharaan larva, dan pendederan.

Pematangan Gonad

Pada tahap ini indukan dipelihara pada kolam khusus berukuran 500 – 700 m2 dengan penebaran 0,1 – 0,25 kg/m2. Selama masa pemeliharaan induk diberi pakan pellet dengan kandungan protein 25- 28 %, yang diberikan sebanyak 3% dari berat badannya sebanyak 2 -3 kali dalam sehari.

Selain pemberian pellet, indukan juga diberi pakan berupa daunan hijau seperti  daun singkong secukupnya. Lama pemeliharaan induk kurang lebih  8 bulan. Induk yang siap pijah didapatkan menggunakan cara seleksi. Ciri induk jelawat dengan gonad yang matang ialah sebagai berikut:

Indukan betina

  • Perut terlihat membesar dan lembut bila diraba
  • Apabila diurut menuju arah anus keluar cairan berwarna kekuningan
  • Sirip dada terlihat halus serta licin

Indukan jantan

  • Perut terlihat langsing
  • Apabila diurut ke arah anus akan keluar cairan putih (sperma)
  • Apabila diraba sirip dada terasa lebih kasar

Proses Pemijahan

Pemijahan jelawat bisa dikerjakan secara alami dan buatan. Dalam pemijahan buatan, dapat melakukannya dengan penyuntikan (induced breeding) memakai hormon. Induk jantan dan betina disuntik memakai hormon ovaprim.

Induk betina dikerjakan 3 kali penyuntikan dengan dosis 0,7 ml /kg induk. Jarak waktu antara penyuntikan pertama dan kedua 12 jam, sedangkan penyuntikan kedua dan ketiga 6 jam.

Induk jantan dikerjakan satu kali penyuntikan dengan dosis 0,5 ml/ekor induk bersamaan penyuntikan kedua induk betina. Penyuntikan dikerjakan secara intramuscular di bagian punggung.

Kemudian dikerjakan stripping (pengeluaran telur dan sperma dari induk) setelah 4 – 6 jam dari suntikan terakhir. Telur dan sperma ditampung dalam satu wadah yang bersih dan kering. Kemudian diaduk secara pelan hingga tercampur merata dengan memakai bulu ayam.

Tambahkan air bersih untuk mengaktifkan sperma, setelah terjadi pembuahan maka dikerjakan pencucian telur 3 – 4 kali hingga telur bersih dari sisa sperma.

Penetasan

Pada tahap penetasan, dibutuhkan wadah untuk menampung dan menetaskan telur. Wadah penetasan telur berbentuk corong berukuran 60 cm tinggi 50 cm, terbuat dari bahan halus atau kain pada bagian bawah diberi aerasi yang berguna untuk menggerakkan telur.

Kepadatan telur 10.000 – 20.000 butir per corong, wadah tersebut dipindahkan di dalam bak yang aliran airnya lancar. Pada suhu normal 26 – 28 0c, dalam waktu 18 – 24 jam telur akan menetas selanjutnya larva ditampung dalam bak perawatan.

Selama dalam perawatan larva diberi pakan berupa nauplii artemia atau emulsi kuning telur yang sudah direbus. Setelah larva berusia antara 7 – 10 hari, selanjutnya ditebarkan di kolam pendederan yang sudah dipersiapkan.

Pemeliharaan Larva

Larva diternakkan langsung di tempat penetasan telur, cangkang & telur yang tidak menetas dibersihkan secara penyiponan. Hari ke 3 larva dikasihkan pakan naupil artemia (yang baru menetas) secukupnya.

Pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari (pagi, siang ,sore). Pada hari ke 7 setelah menetas benih ikan siap untuk didederkan di kolam.

Pendederan

Pada tahap pendederan, persiapan kolam terdiri dari pengeringan 2 – 3hari, perbaikan pematang. Pembuatan saluran tengah (kamalir) dan pemupukan dengan pupuk kandung sejumlah 500-700 gr/m2.

Kolam diisi air sampai ketinggian 80-100 cm. Pada saluran pemasukan dipasang saringan berupa hapa lembut untuk menghindari masuknya ikan liar. Benih ditebarkan tiga hari setelah pengisian air kolam dengan padat penebaran 100-150 ekor/m2.

Benih ikan diberi pakan berupa tepung hancuran pelet dengan dosis 10-20 % per hari yang terkandung lebih kurang 25% protein. Lama pemeliharaan 2-3 minggu. Benih yang dihasilkan ukuran 2-3 cm dan siap untuk pendederan lanjutan.

Pembesaran

Metode pembesaran ikan jelawat bisa dikerjakan di kolam dan dilanjutkan dengan pemeliharaan di karamba.

  • Pembesaran di kolam

Pembesaran di kolam, benih ikan jelawat berukuran 40 g diternakkan dengan kepadatan tebar 10 ekor/m2. Ikan diberi pakan komersial atau pelet yang terkandung protein 28% dan disediakan 3% bobot biomasa per hari dengan frekuensi pemberian 3 kali sehari. Pembesaran ini dikerjakan selama lima bulan pemeliharaan dan menciptakan berat akhir sebesar  200 g/ekor.

  • Pembesaran di keramba

Kemudian, pemeliharaan ikan jelawat dikerjakan di karamba berukuran 1,2 m x 0,8 m x 1,1 m. Pada pembesaran ikan jelawat di karamba, ikan seberat 200 g/ekor ditebar dengan kepadatan 75 ekor/karamba.

Ikan diberi pakan komersial atau pelet yang terkandung protein 28% yang dikasihkan sejumlah 3% berat biomasa per hari dengan frekuensi pemberian 3 kali dalam sehari.

Pembesaran ikan jelawat ini dikerjakan selama enam bulan pemeliharaan dan menciptakan ikan konsumsi dengan berat rata-rata 1.000 g/ekor.

Apakah Artikel Ini Berguna ?

Tekan pada gambar bintang

Rata rata penilaian / 5. Jumlah vote :

Terima sudah memberi ulasan terbaik

Share ke media sosial untuk berbagi informasi

Last Update

Leave a Comment

error: Content is protected !!