Cara Budidaya Ulat Hongkong

Ulat hongkong banyak dipakai sebagai pakan burung, ikan, reptil atau hewan piaraan lainnya. Apabila mempunyai beberapa hewan piaraan yang makan ulat hongkong, masuk akal untuk memeliharanya sendiri.

Memulai pemilik ternakan tidak semahal yang dikira, bisa dimulai dan menjalankannya dalam waktu singkat.

cara-budidaya-ulat-hongkong

Peralatan Untuk Budidaya Ulat Hongkong

  • Oatmeal/havermut kering
  • Sumber kelembaban organik yang tidak berjamur dengan cepat. Wortel cocok, tapi bisa juga memakai buan-buahan serta sayur-sayuran seperti irisan atau potongan kentang atau apel.
  • Tiga toples plastic dengan lubang udara di atas
  • Beberapa karton tempat telur atau karton tisu toilet
  • Ulat hongkong, juga dikenal sebagai darkling beetle larva. Mulai dengan 1,000 ekor.

Langkah Budidaya Ulat Hongkong

  • Tuangkan oatmeal hingga lapisannya setinggi 2.5 cm dari dasar toples plastik. Lapisan ini menjadi alas dan makanan bagi ulat hongkong ini dalam beberapa tahap perkembangannya.
  • Simpan beberapa potongan sayur di dalam tiap toples. Dapat memakai buah atau sayur seperti seledri, daun selada, kentang atau apel. Wortel membutuhkan waktu lebih lama untuk berjamur dibanding buah-buahan dan sayur-sayuran lain. Apabila memutuskan sayur atau buah lain sebagai sumber kelembaban lain, harap dipastikan untuk sering merubahnya.
  • Masukkan ulat hongkong hidup ke dalam salah satu toples. Beberapa pemilik ternak ulat hongkong juga memasukkan beberapa potong roti dan sereal atau makanan anjing kering ke dalam toples.
  • Letakkan beberapa potongan karton di atas oatmeal. Serangga ini sangat suka kegelapan.
  • Beri toples label yang sangat pas. Salah satunya ialah untuk ulat (larva), satu untuk pupa (kepompong), dan satu untuk kumbang dewasa.
  • Tutup toples dan tempatkan di area lebih hangat serta gelap. Kehangatan akan memperlancar proses perkembangan ulat, selanjutnya akan menjadi pupa (kepompong) sangat cepat seandainya tinggal di area lebih hangat.

Cara Merawat Ulat Hongkong

1. Pemeliharaan toples dilakukan secara teratur.

Beberapa pemilik ternak memonitor tiap hari, dan ada pula satu minggu sekali. Buang sayuran yang telah busuk, serangga mati atau jamur pada oatmeal. Tambahkan sayuran atau oatmeal seandainya dibutuhkan, dan aduk lapisannya untuk menghindari tumbuhnya jamur.

2. Perhatikan pupa di dalam toples ulat.

Tergantung suhu dan umur ketika membelinya, perubahan menjadi pupa dapat dialami antara satu minggu hingga dua bulan. Kedewasaan ulat di tiap tahap siklusnya ditandai dengan warnanya yang menjadi gelap.

Pupa mulai dari berwarna sangat putih pucat serta nampak lebih seperti kumbang yang meringkuk bukan seperti ulat. Pemilik akan melihat bahwa binatang ini berganti kulit beberapa kali sebelum bermetamorfosis pupa. Ini ialah hal yang normal.

3. Pisahkan pupa langsung ketika mendapatinya.

Dapat memakai pinset seandainya merasa geli. Pupa hanya sedikit bergerak dan tidak membutuhkan makanan sama sekali. Kelembaban berupa sayur atau buah boleh diberikankan dalam toples, tetapi pupa tak mungkin mengkonsumsinya.

Sangat penting guna memisahkan pupa dari larva dan kumbang karena pupa tidak bisa membela diri lalu lari dari resiko dikonsumsi sebelum kepompongnya terbuka. Tahap pupa berlangsung dari satu hingga beberapa minggu tergantung suhu.

Pemilik akan menyadarinya karena semakin mendekat waktunya terbuka warnanya akan menjadi gelap.

4. Periksa toples secara rutin.

Hal ini menjadi lebih penting ketika mempunyai lebih banyak kumbang dalam siklusnya.

5. Pindahkan kumbang dewasa dari toples pupa langsung ketika mendapatinya.

Kumbang akan mulai mengkonsumsi pupa lain seandainya tak kunjung ditempatkan. Masukkan kumbang dewasa ke dalam toples tidak sangat mirip pengaturan yang sangat mirip ulat. Pemilik bisa membuat bertambahkan oatmeal lebih banyak untuk memberi banyak ruang untuk bersarang.

6. Periksa toples kumbang dewasa teratur dan cari telurnya.

Telur akan sangat meningkat dengan sangat meningkatnya kumbang di dalam toples. Telur umumnya bisa ditemukan di dasar toples. tidak wajib memindahkan telur, tapi eksistensinya menandakan Pemilik akan mempunyai larva (ulat hongkong) sebentar lagi.

Betina dewasa akan mengeluarkan 500 telur sekali bertelur. Telur akan menetas dalam 4-19 hari tergantung temperatur.

7. Pindahkan ulat dari tempat asal kumbang dewasa ke dalam toples larva.

Karena betina menciptakan telur berlimpah pemelihara akan sering memindahkan larvanya ketika telur menetas.

8. Terus memantau tiap hari atau tiap minggu.

Termasuk merubah makan dan sumber kelembaban (buah atau sayur), menjaga kumbang terpisah sesuai tahap pertumbuhannya, buang kumbang mati dan acak lapisan oatmeal secara rutin.

Apabila diperhatikan bahwa pemilik telah menciptakan lebih banyak ulat hongkong dari yang diperlukan untuk memberikan makanan piaraan. Ambil beberapa kumbang dewasa lalu lepaskan ke tempat asal natural yang jauh dari tempat memeliharanya.

Bisa juga memberi pupa sebagai makanan kumbang dewasa, atau letakkan ulat lebih di dalam wadah makan burung di halaman untuk burung liar.

Kendala Dalam Budidaya Ulat Hongkong

kendala-dalam-budidaya-ulat-hongkong

1. Ulat Hongkong Dimakan Predator Lain

Binatang pemangsa yang kerap mengkonsumsi ulat hongkong ialah semut, cicak dan tikus, binatang tersebut jika tidak dibrantas atau dicegah, akan dapat mengkonsumsi bahkan menghabiskan bibit  dan dapat menjadi pemicu usaha rugi atau bangkrut.

Cara pencegahan

  • Memberi oli atau air pada kaki rak tempat kandang ternak dengan memakai botol atau yang berbedanya, memiliki tujuan supaya semut tidak bisa naik melalui tiang tersebut,
  • Memberikan jarak antara rak dan tembok, supaya semut tidak dapat masuk kandang melalui tembok.
  • Memusimng kawat nyamuk pada dinding rak di bagian samping kiri-kanan dan belakang, sedangkan untuk bagian depan dibuat pintu juga dipasang kawat nyamuk, memiliki tujuan supaya peredaran udara tetap lancar, cicak dan tikus tidak dapat masuk kekandang.

2. Ulat hongkong banyak yang mati

Terkadang sering dijumpai ulat hongkong berwarna hitam dan menjadi kering atau mati, umumnya ditimbulkan oleh kondisi suhu kandang teramat panas, sehingga menjadikannya tidak bisa bertahan hidup.

Cara mengatasinya

  • Menempatkan rak ditempat teduh, namun dilarang teramat dingin, karena suhu teramat dingin bisa juga menjadi pemicu ulat hongkong mati,
  • Jangan teramat banyak memasukkannya ke dalam boks, karena kepadatan populasi bisa juga dapat memicu kematian pada ulat hongkong,
  • Memberikan pakan tambahan lebih encer, sebagai minumnya supaya ulat hongkong tidak kekurangan air ketika cuaca panas,
  • Usahakan untuk menjadikan peredaran udara dalam kandang lancar, supaya udara selalu segar dan bersih.

3. Kumbang / kepik Cepat Mati

Kelemahan dalam beternak ulat hongkong tidak sekadar terjadi ketika  masih berupa telur atau ketika menjadi dewasa, namun juga dapat dialami ketika sudah menjadi kumbang atau kepik, yakni kumbang cepat mati atau umurnya pendek.

Apabila ini terjadi, maka bisa saja untuk memperoleh bibit-bibit  baru bisa menyusut karena kumbang yang dapat menciptakan telur umurnya pendek, sehingga produksi telur berkurang.

Masalah ini terjadi umumnya ditimbulkan karena ulat hongkong teramat cepat bermetamorfosis pupa atau kumbang, juga bisa dibilang prematur, sehingga seandainya menjadi kumbang umurnya akan pendek.

Cara mengatasi agar kumbang Ulat Hongkong Tidak Cepat Mati

Salah satu hal penyebab ulat hongkong cepat menjelma pupa atau kumbang ialah karena tingkat stress tinggi, penyebab stress tersebut salah satunya ialah populasi yang teramat padat dalam boks.

  • Solusinya ialah jika memakai boks dengan diameter 60x40cm, idealnya cukup diisi sekitar 250gram bibit ulat hongkong,
  • Sedangkan untuk ukuran boks tersebut jika ingin digunakan sebagai tempat bertelurnya kumbang, cukup isi sekitar 100gram kumbang setiap boksnya, bertujuan supaya tidak teramat padat dan tidak mengakibatkan kumbang cepat mati.

Apakah Artikel Ini Berguna ?

Tekan pada gambar bintang

Rata rata penilaian / 5. Jumlah vote :

Terima sudah memberi ulasan terbaik

Share ke media sosial untuk berbagi informasi

Last Update

Leave a Comment

error: Content is protected !!